Manusia berlian
(Cipt
: muhammad riza rizqi B712190)
Kukuriyukkk…….
Suara ayam yang lantang di pagi hari
membangunkan keluarga kecilku dan aku bergegas membangunkan semua orang rumah
untuk mengajak sholat shubuh berjamaah lalu orang rumah pun terbangun untuk
melaksanakan sholat shubuh, seperti biasa kita hanya bertiga dan aku terpaksa
menjadi imam dari seorang ibuku dan adikku yang masih berumur 12 tahun.
“Assalamuaikumwarahmatullah
(suara salam terakhir dalam sholat) “
Setelah
selesai sholat aku mencium tangan ibuku dan adekku pun mencium tanganku dan
tangan ibuku
“buk
bapak nak ndi to?” aku bertanya kepada ibuku
“bapak
dereng wangsul le” ibuku menjawabnya sambil melipat mukenah yang sudah di
gunakan setelah sholat
“bapak
iki ora wedi neroko to buk? wes tuo kok sek pancet kek arek nom” aku bertanya
ibuku dengan nada yang lumyan tinggi dikarenakan bapakku hampir tidak pernah
pulang, dan bapakpun terkadang pulang ketika udah siang hari
“huss
railok lo lee ngomong kek ngunu wess to ndang di dungakne bapake ben di kei
hidayah kro gusti allah, wes kono adus” ibuku menegorku lalu ia pergi
meninggalkanku
Lalu
aku sujud untuk berdoa “yallah bukakan
pintu hati bapak ya allah berikan bapak hidayah agar cepat taubat”.
~ warung
tetangga~
“bu
adek di suruh bayar uang sekolah supaya besok adek bisa ikut ujian” Tia
mengatakan dengan polos
“iya
nduk udah ibuk siapin, bangunin masmu to nduk” ibu berkata
Tia
langsung lari ke kamar dan membangunkanku “mas Rizqi ngk njaga warung ta mas”
Dan
aku terbangun langsung untuk bergegas menjaga warung tetanggaku tidak lama
kemudian ada suara yang begitu keras
“Gubrakkkk”
lalu aku menghampiri suaru tersebut dan setelah aku menghapirinya ternyata
bapakku yang jatuh di depan rumah dengan kondisi mabuk serta ada ibu yang
menolong bapak, sudah terbiasa aku melihat bapak dengan kondisi seperti ini dan aku segera mengangkat bapak ke kamar
dan aku melanjutkan untuk sebenarnya aku ingin sekali melanjutkan pendidikan
kuliah tapi melihat kondisi ibuku yang hanya seorang pembantu di rumah tetanggaku
dan ketambahan tingkah laku bapak yang seperti itu terpakasa aku harus bekerja
untuk membantu ibuku sesampainya di
warung aku mulai menyiapkan dan sesegera membuka warung tiba-tiba ada si ali
teman SMA ku
“Qi
kopi item satu ya, behh enak banget nih gorengan makya masih panas” kata si ali
sambil menyantap gorengan panas makya
“eh
Ali okeyy Lii, piye lii kuliahmu lancar too” aku menanyakan dengan sedikit
tersenyum karena Ali adalah donator kampus alias dia suka molorin kuliahh
“wess
too qii awkmu ngeyek aku ae, taun iki aku lulus dungakno” kata Ali dengan nada
sebel
“aminnn
nih kopinya, awkmu iku kudu bersyukur seharuse isok kuliah ndang di mareknoo
pengen njogo warung kek aku pumpung enek kesempatan ojok males-malesan” kataku
sambil menepok pundaknya
“he
em qi taun iki lulus wes siding kok aku, aman kawan” ucap Ali
“wih
Alhamdulillah, tak dungakne cepet lulus yawes aku tak lanjut kerjo li” ucapku
lalu meninggalkan dia dan Ali membalasnya dengan menganggukan kepala saja
Setelah
lama aku aku menjaga warung dan tak tersa haripun udah sore udah petang dan aku
bergegas menutup warung setelah aku selesai beres-beres akupun pulang ke rumah.
~Berantakan~
“Assalamualakum”
ucapku sesampai di rumah dan heranya tidak ada yang menjawab salamku sama
sekali biasnya ibu menjawab salamku aku
sedikit curiga dan aku langsung masuk ke rumah lalu menuju kamar ibuku dan
ternyata ibuku tampak menangis dan aku pun langsung menghapiri ibuku
“buuu,
ibukk kenapa” ucapku
“bapakmu
lee njupuk uange ujiane Tia” tutur ibuku dengan terbata-bata
Emosi
ku mulai panas dan aku pun mencoba menenangkan ibuku untuk menyuruhnya cuci
muka dan aku berkata kepada ibuku “Rizqi ada uang kok bu, klo kurang besok
Rizqi cariin pinjeman dulu udah ibu sekarang tidur udah malem”
Ibuku
cukup lega mendengarkan kata-kataku dan ibuku menurut kepadaku agar dia segera
tidur dan aku tau kondisi ibu juga capek sehabis pulang kerja dan akupun pergi
ke kamar mandi untuk mengambil air wudhu lalu melaksanakan sholat isak
sekaligus menenangkan hatiku dalam keadaan panas setelah sholat aku langsung
bersiap siap untuk tidur di karenakan besok aku kerja pagi.
~Ketulusan Ibu~
Seperti
biasa aku, adekku, dan ibuku melaksanakan sholat shubuh berjamaah setelah kami
melaksanakan sholat shubuh tiba tiba ada
tetangga yang mengetuk pintu rumah kami
ternyata warga sedang lagi menolong bapakku yang lagi babar belur dan dalam
kondisi mabuk kami panik apalagi ibu sangat histeris menangis melihat kondisi
bapak yang babak belur aku dan ibuku segera membawa bapak ke kamar
“lee
godokno banyu ibu kate ngompres bapak” kata ibuku menyuruhku dangan
terbata-bata
“nggeh
bu” ucapku
Aku
segera kedapur dan merebuh air setelah air mendidih air kutuangkan ke wadah dan
kusiapkan kain untuk mengopres bapak setelah beberapa ibu mengopres bapak aku
izin bekerja sekaligus mengantar Tia sekolah.
Setelah
pulang kerja aku bertanya kepada ibu dan aku sengaja bertanya di samping
bapakku yang lagi beristirahat “bu kenopo ibu tulus men ngerawat bapak padahal
bapak nakal ?”
Ibuku
membalas dengan senyuman lalu berkata
“leee awkmu ero berlian to, lek misale berlian ibu buak nak sampah
sampean jupuk maneh berlian iku jek berharga to leeee?”
“njjeh
buk tasik berharga, trus nopo hubungane buk” jawabku sambil bigung ta mengerti
apa yang dikatan ibuk
“yo
podo kek bapkmu lee sebejat2 e bapakmu iki yo jek tetep bapakmu seng kudu di
hargai dungakne trus ben bapkmu oleh
hidayah” ujar ibuku sambil mengelus rambutku
“njeeh
buk bapak kulo dungani trus” ujarku
Tiba
tiba bapakku batuk rupanya bapak sadar aku dan ibu membicarakanya dan kagetnya
mengelus kepalaku lalu mengatakan
“leee
sepurane yoo bapak raiso gekei contoh seng bener kanggo pyan yo lee” ujar
bapakku dengan lemas
Seketika
aku langsung memeluk bapaku dan menangis dan akupun berkata “Rizqi njeeh nyuwun
sepuntene njjeh pak kadang Rizqi wonten pikiran elek teng bapak, bapak sampun
wonten nopo kok sampek babak belur?”
“bapak
di keroyok lee soale bapak kalah taruan dan kondisi bapak iku lagi mabuk, tapi
bapak bakalan janji lee bapak bakalan ngekeei contoh seng apik gae anak-anak e
bapak bapak sepurane yo lee” ujar bapakku dengan lemas
Aku tak sanggup mendengar kata-kata bapak dan aku hanya menanggukan kepala lalu aku memeluk bapakku dan disusul ibuku memeluk aku dan bapakku. Setelah trahedi itu bapak sangatlah rajin beribadah dan bapak sering mengimami shubuh ketika kita sholat sekeluarga.



